Mengenang 10 Tahun Tsunami Aceh
Aceh, 26 Desember 2004
Rutinitas pagi itu berjalan seperti biasa. Tak ada yang menyadari akan terjadi bencana, gempa besar yang menyebabkan tsunami. Kurang lebih 200 ribu orang meninggal dunia dibuatnya.
Pukul 08.00 waktu setempat, gempa berkekuatan 8.2 skalarichter mengguncang provinsi bagian barat Indonesia itu. Gempa tersebut tergolong gempa berkekuatan besar. Tsunami terjadi dalam waktu 10 menit. Kabarnya, tsunami Aceh merupakan tsunami dalam waktu terlama di dunia.
Semangat seseorang mencari keluarga sangat membekas di hati. Lebih membekas dibanding bau anyir jenazah, porak poranda bangunan, jasad manusia yang entah bentuknya sudah seperti apa.
"anak saya di mana? saya lihat anak saya di tv itu, sekarang anak saya di mana?"
"ibu.. ibu di mana?"
Mencari anggota keluarga yang entah selamat atau tidak, entah terseret arus ombak sampai mana. Komunikasi menjadi problema saat itu. Semua stasiun radio, semua operator, kabel telekomunikasi hilang, terputus.
Perlu diingat orang, Masjid Baiturrahman selamat. Tidak terbawa arus ombak. Hanya bangunan itu yang
tetap berdiri kokoh diantara semua bangunan disekitarnya. Sangat rata.
26 Desember 2014
Mengenang 10 tahun Tsunami Aceh. Tepat pada hari ini.
Salah satu hikmah terdapat pada peristiwa tersebut. Saat itu, saat Aceh "dipojokkan" oleh Indonesia, dikabarkan akan keluar dari negara ini. Allah swt memberi sebuah sentilan. Pemerintahan baru era Kabinet Indonesia Bersatu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung terjun menanganinya. Semua prihatin.
Peristiwa tersebut diabadikan dalam novel berjudul "Hafalan Sholat Delisa" karya Tere Liye dan diangkat ke layar labar sekitar tahun 2010.
Museum Tsunami Aceh, karya arsitektur Ridwan Kamil-- Walikota Bandung. Mengabadikan semua. Terdapat bendera-bendera negara yang turut membantu, nama-nama korban yang tewas, hingga ruangan yang menggambarkan tsunami sedang terjadi.
Aceh bangkit. Dalam kurun waktu 10 tahun, terbilang cepat untuk membangkitkannya.
--
Jujur saja, saat peristiwa itu, umur saya baru 2 tahun. Sedikit memori yang tersimpan saat saya melihat televisi. Selebihnya hanya dari membaca buku dan menonton televisi, hehe. Maaf saya masih belajar menulis.
Salam,
Queena Nabila Hidayat
Ketua OSIS, Pemimpin Redaksi Majalah ...., Wakil Ketua Teater Astina
SMP Negeri 4 Bogor *amin, ngayal euy*
Rutinitas pagi itu berjalan seperti biasa. Tak ada yang menyadari akan terjadi bencana, gempa besar yang menyebabkan tsunami. Kurang lebih 200 ribu orang meninggal dunia dibuatnya.
Pukul 08.00 waktu setempat, gempa berkekuatan 8.2 skalarichter mengguncang provinsi bagian barat Indonesia itu. Gempa tersebut tergolong gempa berkekuatan besar. Tsunami terjadi dalam waktu 10 menit. Kabarnya, tsunami Aceh merupakan tsunami dalam waktu terlama di dunia.
Semangat seseorang mencari keluarga sangat membekas di hati. Lebih membekas dibanding bau anyir jenazah, porak poranda bangunan, jasad manusia yang entah bentuknya sudah seperti apa.
"anak saya di mana? saya lihat anak saya di tv itu, sekarang anak saya di mana?"
"ibu.. ibu di mana?"
Mencari anggota keluarga yang entah selamat atau tidak, entah terseret arus ombak sampai mana. Komunikasi menjadi problema saat itu. Semua stasiun radio, semua operator, kabel telekomunikasi hilang, terputus.
Perlu diingat orang, Masjid Baiturrahman selamat. Tidak terbawa arus ombak. Hanya bangunan itu yang
tetap berdiri kokoh diantara semua bangunan disekitarnya. Sangat rata.
26 Desember 2014
Mengenang 10 tahun Tsunami Aceh. Tepat pada hari ini.
Salah satu hikmah terdapat pada peristiwa tersebut. Saat itu, saat Aceh "dipojokkan" oleh Indonesia, dikabarkan akan keluar dari negara ini. Allah swt memberi sebuah sentilan. Pemerintahan baru era Kabinet Indonesia Bersatu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung terjun menanganinya. Semua prihatin.
Peristiwa tersebut diabadikan dalam novel berjudul "Hafalan Sholat Delisa" karya Tere Liye dan diangkat ke layar labar sekitar tahun 2010.
Museum Tsunami Aceh, karya arsitektur Ridwan Kamil-- Walikota Bandung. Mengabadikan semua. Terdapat bendera-bendera negara yang turut membantu, nama-nama korban yang tewas, hingga ruangan yang menggambarkan tsunami sedang terjadi.
Aceh bangkit. Dalam kurun waktu 10 tahun, terbilang cepat untuk membangkitkannya.
--
Jujur saja, saat peristiwa itu, umur saya baru 2 tahun. Sedikit memori yang tersimpan saat saya melihat televisi. Selebihnya hanya dari membaca buku dan menonton televisi, hehe. Maaf saya masih belajar menulis.
Salam,
Queena Nabila Hidayat
Ketua OSIS, Pemimpin Redaksi Majalah ...., Wakil Ketua Teater Astina
SMP Negeri 4 Bogor *amin, ngayal euy*
Komentar
Posting Komentar